RSS

Provinsi Aceh. Banda Aceh, Menyusuri Jejak Tsunami 11 Tahun lalu

Provinsi Aceh. Banda Aceh, Menyusuri Jejak Tsunami 11 Tahun lalu

Ketika disibukkan dengan acara rapat pembahasan dan tugas-tugas kantor yang begitu padatnya di akhir tahun 2015, hanya ada satu kata di kepala yang ingin dikerjakan setelah semua kesibukan ini berlalu. Liburaaaannnnnn……

Sudah lama ingin mengunjungi kota tempat suami bertugas, Medan, namun ada saja hambatannya. Akhir tahun 2015 ini adalah waktu yang ada dan tidak bisa ditunda lagi karena terhitung Januari 2016 suami telah bertugas di Palembang. Kalender di meja kerja menjadi sarapan mata setiap pagi. Menyesuaikan dengan skedul rapat terakhir dan browsing tiket murah. Apa daya semua penerbangan ke Medan muaaaahalnya polll…. Liburan panjang mulai tanggal 20 Desember 2015 membuat harga tiket gila-gilaan. Paling murah 3 jeti per orang. Walah…. Pengen berangkat di tgl 24 terpaksa gak jadi, ditambah lagi pada tgl tsb Mas Bam masih tugas di Aceh. Lengkaplah sudah…

Kenapa tidak ke Aceh aja? coba lihat tiketnya!

Pertanyaan Mas Bam yang menjadi jalan keluar. Tiketnya bersahabat dengan dompet. Tujuannya pun sesuai dengan keinginan lama ku yang ingin jalan ke Aceh. Mas Bam ada di Banda Aceh tgl 26 Desember. Jadilah 3 lembar tiket ke Banda Aceh tgl 26 Desember 2015 ku print keesokan harinya.

Palembang – Batam – Banda Aceh ditempuh setengah hari. Awan mendung hitam dengan derasnya hujan tampak memutih menyelimuti bandara dilihat dari ketinggian menjelang mendarat. Bandara Sultan Iskandar Muda pukul 12.25 WIB tampak megah dengan arsitektur seperti masjid. Semula ku kira mesjid namun ternyata bangunan bandara. Ruang terbuka hijau berupa sawah, kebun dan bukit-bukit nampak mengelilingi kawasan bandara. Bandara yang bersih, rapi dan gaya arsitekturnya berbeda dari kebanyakan bandara lainnya di Indonesia.

IMG_3223 - Copy

Bandara Sultan Iskandar Muda dari balik kaca pesawat

Bandara Sultan Iskandar Muda terletak di Kabupaten Aceh Besar. Menuju perbatasan Kota Banda Aceh tidak begitu jauh. Gerbang besi selamat datang di banda Aceh yang berada di atas jembatan menjadi penanda masuknya ke kota yang berada di ujung Barat Indonesia ini.

Jalan yang bagus dan beraspal mulus menunjukkan pembangunan infrastruktur di Banda Aceh cukup baik. Boleh dikatakan, jalan-jalan yang ada lebih baik dari beberapa kota besar dan kota sedang yang pernah saya kunjungi. Apalagi jalan-jalan ini tidak terlalu ramai  sehingga bagusnya kondisi jalan mudah disaksikan. Semakin jauh masuk ke Kota Banda Aceh, kami melintasi jalan di samping ” Jembatan Jacky Chen”. Konon pembangunan jembatan ini didanai oleh Aktor terkenal Jacky Chen sehingga jembatan tersebut dinamai dengan namanya. Ada satu hal lagi, lampu-lampu jalan desainnya unik karena tidak pernah menjumpainya di kota-kota lain.

Secara keseluruhan, saya menyaksikan infrastruktur jalan dan atribut pelengkapnya bagus dan menarik. Sepertinya sejak kejadian Tsunami di Tahun 2004 dan selesainya konflik di Aceh secara luas, mendorong pembangunan di Aceh khususnya Banda Aceh berjalan pesat. Dana pembangunan baik dari Indonesia dan bantuan luar negeri mengalir untuk membantu rakyat Aceh bangkit kembali membangun negerinya. Hal ini bisa saya saksikan kembali pembangunan yang cepat di Banda Aceh dari beberapa lokasi yang hancur oleh Tsunami yang saya kunjungi beberapa hari selanjutnya.

Kawasan Pantai Ulee Lheue. Kawasan ini hancur diterjang gelombang tsunami yang kabarnya setinggi pohon kelapa. Dokumentasi kehancuran kawasan ini di Tahun 2004 saya saksikan langsung di Museum Tsunami. Karenanya ketika bisa hadir langsung menyusuri kawasan pantai ini, saya masih bisa membandingkan kondisinya setelah tsunami dan kondisi di tahun 2015, 11 tahun setelah bencana tsunami melanda. Hampir tidak ada jejak tsunami lagi kecuali kawasan pantai yang cenderung kosong tanpa bangunan yang habis tersapu tsunami. Beberapa permukiman baru tampak berdiri dengan bentuk bangunan yang cenderung sama. Sepertinya permukiman ini merupakan kawasan rehabilitasi pemukiman yang dibangun oleh dana bantuan. Infrstruktur jalan tampak bagus, rapi dan masih baru. Pantai Ulee Lheu pun tampak tertata rapi dan menjadi tempat rekreasi. Menara pandang berdiri di tepi pantai. Sepertinya juga bisa menjadi lokasi perlindungan terhadap tsunami. Jalan lebar dan tampak dibangun dengan konstruksi yang baik terhampar sepanjang pantai. Tugu penanda jalan tersebut dibangun dari dana bantuan Asian Development Bank (ADB) berdiri di ujung jalan di depan Pelabuhan Penyeberangan Feri Ulee Lheue.

Menjauh sedikit ke daratan masih di Desa Ulee Lheu Kecamatan Meuraxa, tampak berdiri kokoh Masjid Baiturrahim. Masjid ini terkenal karena walau diterjang gelombang tsunami namun tetap berdiri kokoh ditengah bangunan-bangunan lain disekitarnya yang rata dengan tanah tersapu gelombang. Masjid berwarna putih ini berdiri sejak tahun 1926 dibangun Alm. Teuku Teungoh dengan dana swadaya masyarakat di atas tanah wakaf.

Mengarah lebih kedaratan lagi, tidak jauh dari Masjid Baiturrahim terdapat kuburan massal para syuhada korban tsunami. Tempat ini tampak sepi. Hamparan rumput hijau tanpa nisan menjadi tampilan tempat bersemayamnya ribuan orang syuhada. Hanya ada gundukan batu yang ditaburi bunga aneka warna menjadi penanda bahwa tempat ini menjadi pusat acara refleksi 11 tahun gempa dan tsunami aceh. Suasana yang sepi dan sendu membawa rasa sedih dan terbayang akan betapa dahsyatnya kejadian gempa dan tsunami pada saat itu. Tanpa terasa air mata menggenang. Doa pun dipanjatkan untuk para syuhada disini.

11 tahun yang lalu ketika gempa dan tsunami melanda, banyak rumah dan bangunan yang rusak parah dan juga menghancurkan ekonomi rakyat Banda Aceh. Saat ini di awal tahun 2016, terlihat ekonomi rakyat Banda Aceh sudah hidup kembali. Contohnya, sepanjang Jalan Pocut Baren tempat kuburan massal berada, tampak berdiri toko-toko kebutuhan sandang, pangan, bahan bangunan dan juga rumah makan. Rupanya bencana gempa dan tsunami juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar kawasan pantai yang disapu tsunami. Banyak wisatawan yang datang ke Banda Aceh ingin menyaksikan langsung jejak tsunami. Tentunya kawasan Pantai Ulee Lheue, Masjid Baiturrahim dan kuburan massal menjadi tempat utama yang didatangi wisatawan. Beberapa rumah makan yang ada di Jalan Pocut Baren hidup disamping untuk masyarakat Aceh, juga melayani kebutuhan wisatawan. Menu masakan spesifik Aceh menjadi menu andalan yang ditawarkan ke wisatawan.

Menjauh lagi ke daratan 5 km, jejak tsunami dapat disaksikan di Gampung Punge Blang Cut. Kapal besar karam di permukiman menjadi saksi bisu kedahsyatan gelombang tsunami. Kapal ini berbobot 2600 ton dan merupakan Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel lepas pantai (PLTD Apung I). Sulit membayangkan betapa kapal seberat ini bisa terbawa gelombang sejauh ini kecuali karena kuasa ALLah SWT. Pemerintah setempat menjadikan kapal ini sebagai situs tsunami PLTD Apung.

Menuju lebih ke tengah Banda Aceh, terdapat masjid yang menjadi kebanggaan yaitu Masjid Baiturrahman. Masjid ini merupakan masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Maasjid ini selamat dari gelombang tsunami. Tidak ada kerusakan sama sekali. Kabarnya air laut hanya masuk sampai pekarangannya saja.

Banda Aceh tampak bangkit kembali. Bencana alam tidak menjadi hambatan bagi keinginan untuk maju menatap masa depan. Banyak tulisan yang mengatakan bencana alam bagian dari cerita sepanjang sejarah Banda Aceh. Dan nampaknya Banda Aceh akan terus bangkit kembali.

Palembang, Juni 2016.

 

IMG_3254

Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar

IMG_3302

Infrastruktur berupa jembatan dari Aceh Besar menuju Banda Aceh. Lampu jalannya unik.

IMG_3307

Gerbang perbatasan dari Aceh Besar masuk Banda Aceh

IMG_3357

Kantor Gubernur Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)

IMG_3410

Pantai Ulee Lheue yang bersolek kembali setelah hancur oleh gelombang tsunami 26 Desember 2004

IMG_3412

Tanggul penahan gelombang dibangun di Pantai Ulee Lheue

IMG_3484

IMG_3492

Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue menuju Sabang

IMG_3497 (26)

Jalan Ulee Lheue yang dibangun ADB

 

IMG_3505 (34)

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu

IMG_3531 (60)

Kawasan pantai di Ulee Lheue yang hancur tersapu tsunami sudah dibangun dan tertata kembali

IMG_3502 (31)

Ekonomi rakyat Banda Aceh bergerak kembali. Tambak ikan apung di kawasan Ulee Lheue

IMG_3533 (62)

Lokasi persemayaman terakhir para syuhada korban tsunami di Ulee Lheu. Lokasi ini menjadi pusat kegiatan refleksi 11 tahun gempa dan tsunami Aceh

IMG_3542 (71)

IMG_3555

Rumah makan kuliner khas Aceh di depan Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

IMG_3559 (88)

Hidangan masakan khas Aceh

IMG_3664 (124)

Museum tsunami Aceh yang dirancang Walikota Kota Bandung Ridwan Kamil

IMG_3758

Masjid Raya Baiturahman under construction untuk penambahan payung besar. Menjadi saksi bisu tsunami Aceh 26 Desember 2004

IMG_3762

Situs tsunami PLTD Apung

IMG_3808

Kapal PLTD Apung I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: