RSS

Danau Cala: Riverside Village

Desa Danau Cala memanjang di tepian Sungai Musi
Desa Danau Cala memanjang di tepian Sungai Musi

Desa Danau Cala terletak memanjang di tepian  Sungai Musi dan secara administrasi berada di Kecamatan Lais Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Desa ini dipimpin Kepala Desa dan terbagi dalam empat dusun yang masing-masing dipimpin Kepala Dusun. Akses menuju desa ini dapat melalui jalan darat dan sungai. Jalan darat dapat ditempuh sekitar 3,5 jam dari Kota Palembang. Dari Palembang menuju ke arah barat melintasi Kabupaten Banyuasin, Betung dan dipersimpangan menuju Jambi, mengambil jalan menuju kota Sekayu. Setiba di Desa Sungai Guci, berbelok ke selatan dan mengikuti jalan di tepi Sungai Musi sepanjang 8 km dan tiba di desa ini. Untuk jalur sungai, dapat menempuh jalur sungai Musi dari Kota Palembang menuju hulu sungai. Waktu tempuh tergantung dari jenis alat transportasi sungai yang digunakan. Mata pencaharian penduduk terutama dari perikanan dan hasil pertanian seperti kebun karet, buah-buahan jeruk, kelapa, semangka, palawija dan berbagai sayuran.

Ruang permukiman Desa Danau Cala seperti garis memanjang mengikuti alur tepian Sungai Musi. Rumah-rumah penduduk berdiri saling berhadapan dengan muka depan rumah menghadap dua jalur jalan. Penduduk setempat menamakan jalur jalan darat dan jalan laut. Jalan laut adalah jalan yang berdekatan dengan tepi sungai dan jalan darat bersebelahan dengan jalan laut dan lebih menjauh dari tepi sungai. Dahulunya kedua jalan ini berupa jalan tanah namun jalan tersebut sekarang sudah mengalami perkerasan dengan cor semen dan koral. Biasanya sewaktu terjadi air pasang tinggi, air sungai akan naik hingga menenggelamkan kedua jalan ini dan juga jalan utama masuk desa ini  yang melalui Desa Sungai Guci. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya cara menuju desa hanyalah menempuh jalur sungai menggunakan speedboat atau ketek.

Sungai Musi menjadi sumber air yang utama disamping  sumur galian yang menjadi sumber air minum. Mayoritas penduduk desa melakukan aktifitas MCK diatas jamban terapung di Sungai Musi. Penduduk setempat menyebut jamban ini dengan istilah “batang”. Biasanya setiap satu batang dimiliki dan digunakan bersama-sama oleh beberapa rumah yang terdekat dengan batang tersebut. Aktifitas diatas batang paling ramai pada waktu pagi hari sewaktu fajar menyingsing hingga pukul 9 pagi dan sore hari pukul 3 hingga tenggelam matahari. Mandi, mencuci baju dan peralatan dapur, menyiang ikan adalah beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan diatas batang. Sedangkan untuk “toilet terapung” yang dalam bahasa lokal disebut dengan “bong”, menyatu dengan batang dan terletak di bagian timur atau hilir batang. Batang terhubung ke bagian daratan tepian sungai dengan sekeping papan atau “lamban” dalam bahasa lokal dan lamban ini hanya bisa dilalui satu orang. Agar batang tetap pada posisinya dan tidak hanyut terbawa arus sungai, batang diikat dengan tali tambang dan  ujung tali tambang lainnya diikatkan pada tonggak kayu seperti pasak besar yang ditancapkan dalam-dalam  di tebing sungai. Setiap terjadi, perubahan ketinggian muka air sungai, apakah pasang atau surut, maka posisi tonggak kayu ini juga dirubah dan disesuaikan dengan ketinggian muka air sungai. Disamping kegiatan-kegiatan tadi, batang juga dijadikan tempat mengikat perahu dan kapal kecil (dalam bahasa lokal disebut “ketek”) dan fungsinya juga berupa “pelabuhan kecil” tempat bongkar muat hasil pertanian yang dibawa penduduk dari ladang, kebun dan sawah.

Rumah penduduk mayoritas berupa rumah panggung dari kayu dan rumah rakit. Tidak banyak lagi rumah rakit yang masih mengapung di desa ini. Ukuran rumah panggung bervariasi tergantung kemampuan ekonomi pemiliknya namun sebagian besar rumah panggung ini memiliki minimal dua kamar. Struktur rumah masih menggunakan kayu, juga untuk dinding, lantai dan tiang rumah. Untuk tiang rumah sudah banyak yang menggunakan cor beton dengan alasan lebih tahan lama dan tidak lapuk. Untuk atap sendiri mayoritas menggunakan genting tanah dan sebagian menggunakan seng dan atap rumbia atau daun nipah. Mayoritas rumah-rumah penduduk memiliki ruang dalam rumah yang terbagi atas ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, ruang dapur dan dilengkapi teras dibagian depan dan belakang rumah. Sebagian kecil rumah memiliki kamar mandi yang menyatu dengan rumah atau terletak di bawah rumah dan lebih banyak rumah yang tidak  memiliki kamar mandi karena MCK dilakukan diatas batang. Saat ini sudah ada beberapa kamar mandi komunal bantuan pemerintah yang digunakan oleh beberapa rumah untuk setiap kamar mandi komunal dan bangunan tersebut tanpa tiang berdiri di atas lahan milik desa dan dilengkapi sumur air permukaan.

 

15 responses to “Danau Cala: Riverside Village

  1. Ira Mentayani

    5 Agustus 2011 at 22:20

    Paleeemmm..keren banged liputanmuu…:)..istilah batang sm dg di Bjm lo, aktifitas MCKnya juga dilakukakn di batang yg terkadang berfungsi juga sbg dermaga lokal bagi penduduk setempat, tp sepertinya disini tidak ada penjual buah/makanan berperahu ya?? Kapan2 ceritakan sedetilnya yaa..ditunggu..:)

     
  2. ahda mulyati najib

    5 Agustus 2011 at 22:20

    unik, menarik, InsyaAllah saya akan berkunjung kesini ….. melihat pola hidup, perilaku dan kehidupan budaya mereka …..

     
  3. Korlena

    6 Agustus 2011 at 22:20

    Ada kesamaan dengan Banjarmasin ya mba Ira, namun di desa ini tidak ada kegiatan penjual buah dan makanan di atas perahu. Kegiatan tsb dilakukan di darat. Biasanya pedagang akan menjajakan dagangannya dengan berkeliling desa dan dagangan tsb dibawa dengan dijinjing, menggunakan sepeda kayuh atau sepeda motor. Barang yang dijual seperti ikan segar, buah-buahan segar dan makanan olahan… Menarik untuk meneliti persamaan dan perbedaannya dengan Banjarmasin mba…. Dengan Bu Ahda yg ahli melihat pola hidup, perilaku dan kehidupan budaya Bajo di laut, dari melihat desa ini akan dapat melihat sisi lain dari kehidupan desa tepian sungai yg masih alami…🙂

     
  4. ardianto

    9 Juni 2013 at 22:20

    mb asal danau cala ya?

     
  5. kurniati

    8 April 2014 at 22:20

    saya sbagai warga danau cala sangat banga dngan kampung halam man ni yang warga ya sangat ramah baik dan sopan…
    semoga desa danau cala nanti kelak menjadi desa yang maju… dan
    banyak orang yang berdatanga kedesa dengan tujuan bersilaturahmi dan berwisatawan ke danau….

     
    • Korlena

      10 April 2014 at 22:20

      Amin.🙂

       
    • supriangga

      2 Desember 2014 at 22:20

      salam knal mbak?

       
      • Korlena

        14 Januari 2015 at 22:20

        salam kenal juga

         
  6. supriangga

    2 Desember 2014 at 22:20

    wahh sayang sekali danau nya gx diliput mbak? aku asli Danau Cala loh,
    .

     
    • Korlena

      14 Januari 2015 at 22:20

      In sha Allah kalo ada kesempatan ke danau nya saya buat liputannya. terima kasih utk sarannya.

       
  7. dar

    10 Maret 2015 at 22:20

    kalau mau ke danau cala kenali dulu jalannya,, jalannya masuk dari sungai guci sepanjang kurang lebih 9 KM, dimana jalannya itu sebagian becek kalu hujan, belum ada pengerasan. yang ada pengerasan hanya di dalam kampung nya saja, memiliki lelang lebak lebong yang PAD desa danau cala terbesar di Kab. Muba, tidak hanya itu desa ini memiliki potensi minyak yang besar dua buah tempat pengeboran minyak, namun pembangunan insprastruktur jalan masuk masih jelek. saya asli danau cala.

     
  8. desi kiki

    17 Juli 2015 at 22:20

    Salam kenal mbak Corlena… Saya sebenarnya penasaran dgn petilasan berbatu nisan cukup bagus dan mewah di desa Danau Cala yang menurut cerita nenek puyang saya (masih hidup) waktu beliau masih kecil kira-kira tahun 1935-an sering disinggahi oleh orang “ulu”(orang dari Palembang) dan makam itu masih ada. Sayangnya saya belum kesana melihat sendiri petilasan itu yang kata orang tua saya dekat dgn danau itu sendiri(sekarang malah dekat pengeboran minyak pt. Medco). Saya takutnya petilasan itu bisa mengungkap sejarah kerajaan Dan keturunan Sultan Mahmud Badaruddin 2 yang berdasarkan sejarah pernah melakukan perang di desa Bailangu dekat Danau Cala. Makam2 itu sendiri sekarang tak pernah lagi diziarahi. Dan makam itu bukan petilasan bujang ranggonang atau makam2 keramat yg jadi cagar budaya muba alias tidak termasuk cagar. Saya khawatir sejarah hilang. Saya prihatin dgn sejarah muba yang tidak terlalu jelas karena kurangnya minat masyarakat Muba itu sendiri menggali. Thanks mbak

     
    • Korlena

      7 September 2015 at 22:20

      Iya saya setuju dengan pendapat mba

       
  9. Sony coy anak danau cala

    30 Desember 2015 at 22:20

    Saya banga sebagai anak danau cala,krna tempt klahiran saya saat nie udh menjadi desa yg maju,tak seperti yg saya bayang kan,yg dulu nya ngk ada listri,cman pakai lambu duduk.tpi sya brsyukur skrng dgan kemajuan zaman,sehinga membuat danau cala menjdi maju n d kenal smua orng.smogah danau cala smakin jaya. . . .
    By sony danau cala kmpung 4 . ?

     
  10. dar

    9 Februari 2016 at 22:20

    silakan kunjungi fb Aila / grub
    ranggonang putra pasir bayang tuk kabar danau cala lebih lanjut.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: