RSS

Kampung Naga yang Lestari

Kampung Naga yang Lestari

Berpegang teguh pada adat istiadat dan peraturan dari leluhur, membuat Kampung Naga tetap bertahan dan lestari hingga sekarang. Tak ada yang tau persis mengenai sejarah asal  Kampung Naga. Yang pasti kampung ini bertahan dengan kesederhanaannya, kesehajaan dan prilaku tradisional yang mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian kampung dan alam sekitarnya.

Kampung Naga secara administrasi bagian dari Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Neglasari Kecamatan Salawu. Dari jarak, Kampung Naga lebih dekat dengan Kota Garut hanya 26 km dibandingkan ke Kota Tasikmalaya yang berjarak 30 km. Kampung ini dapat dikunjungi melalui jalan Raya Tasikmalaya-Garut. Ada gerbang penanda Kampung Naga di tepi jalan raya ini dan disiapkan kawasan parkir cukup luas bagi pengunjung. Untuk mencapai kampung ini, pengunjung harus berjalan kaki dari kawasan parkir melewati sederetan warung souvenir dan warung makan lalu menuruni deretan anak tangga. Pemandangan selama menapaki anak tangga ini sudah memberikan kesejukan. Hamparan terasering sawah hijau dengan suara gemericik air jatuh mengalir dari cucuran bambu memberikan daya tambahan yang mengurangi rasa lelah kaki sewaktu menjejaki setiap anak tangga.

Pada separuh perjalanan menuruni tangga, terdapat spot sangat bagus untuk memandangi lanskap Kampung Naga dan alam sekitarnya. Kita dapat melemparkan pandangan dengan berdiri atau duduk di pinggiran anak tangga untuk mengagumi keindahan lanskap tersebut. Kampung Naga terlihat sangat menarik sebagai satu kesatuan keindahan dengan bentangan alam disekitarnya. Hamparan sawah menghijau di bagian selatan, tebing dengan hutannya yang cukup lebat dan dikeramatkan oleh penduduk kampung ini, aliran sungai Ciwulan yang mengalir tenang di bebatuan, tampak sungguh memikat mata dan terasa sesuatu yang berbeda terutama bagi pengunjung seperti saya yang terbiasa melihat kehidupan kota. Sangat bagus untuk mengabadikan pemandangan dari spot ini dan segera kamera bekerja menjalankan fungsinya.

Melanjutkan ayunan langkah kaki melewati deretan anak tangga, menghantarkan saya ke tepi Sungai Ciwulan. Pandangan saya terhenti pada satu monumen sederhana dari semen yang diatasnya tertera tulisan bahwa tangga semen tersebut dibangun tahun 1987 sebagai hasil karya bakti sosial Yayasan Keluarga Pahlawan Negara Akademi Teknik YKPN Jurusan Teknik Arsitektur Yogyakarta. Untuk sampai ke kampung Naga, masih harus melanjutkan berjalan kaki melewati jalan berbatu yang tertata rapi dan jalan ini diapit sungai Ciwulan dan hamparan sawah hijau. Tangan saya dengan sangat mudah dapat meraih daun-daun hijau padi dan melihat tetes-tetes embun yang masih menempel. Embun tersebut belum hilang tersapu panas matahari dan saya masih sempat menyaksikannya karena berkunjung kesana di pagi hari.

Ada 112 bangunan semipermanen dan didiami 109 kepala keluarga yang menempati  lahan Kampung Naga  yang hanya seluas 1,5 hektar. Lahan tersebut sebagian besar digunakan untuk rumah, pekarangan, kolam ikan dan selebihnya untuk sawah yang dipanen satu tahun dua kali. Bangunan di kampung ini semuanya tampak sederhana, beratap ijuk dengan lantai, dinding dan tiang dari bahan kayu dan bambu.  Bangunan rumah berbentuk panggung dengan tiang yang tidak begitu tinggi. Rumah-rumah berderet berhadapan dengan jalan kecil di depan masing-masing rumah. Rumah tidak boleh dibangun dari bahan semen atau tembok. Rumah juga diharuskan menghadap utara atau selatan dan memanjang ke arah barat dan timur.

Di kampung ini, tampak batu-batu kali disusun rapi membentuk tangga dan disusun rapi di pekarangan rumah. Ada yang dibentuk menjadi batas pekarangan, ada juga yang disusun rapi merata menutup permukaan tanah di pekarangan rumah penduduk. Batu-batu tersebut juga dijadikan dasar tempat meletakkan tiang-tiang rumah dan menurut cerita setempat batu-batu ini dapat mencegah kerusakan rumah sewaktu gempa melanda kampung.

Ruang publik cukup luas di kampung ini ada di depan masjid dan ada ruang diantara rumah-rumah penduduk yang menjadi ruang interaksi antar penduduk kampung. Ada beberapa rumah yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, barang kerajinan dan souvenir. Aktifitas mandi dan mencuci dilakukan di dekat beberapa kolam ikan. Ada beberapa bangunan MCK sederhana yang digunakan secara komunal dan dibangun di tepi kolam dan ada juga di atas kolam. Pada kolam bagian depan kampung berisi banyak ikan mas yang berukuran besar dan disampingnya ada bangunan pondok yang cukup kokoh yang menyediakan bungkusan plastik kecil berisi makanan ikan. Pengunjung dapat menukar makanan ikan ini  dengan selembar uang ribuan rupiah dan menaburkannya ke kolam ikan. Segera dalam waktu singkat, ikan-ikan mas besar tersebut berebutan menyambut butiran-butiran makan ikan dengan mulut yang menganga lebar. Tampak juga beberapa kandang ternak kambing di pinggiran kampung.

Kampung Naga di pagi hari cukup sepi karena banyak penduduk telah pergi beraktifitas ke lahan pertaniannya. Beberapa ibu-ibu mengasuh anak-anaknya dan orang tua duduk di teras depan rumah. Beberapa orang penduduk laki-laki menunggu di kawasan parkir dan berprofesi menjadi pemandu bagi para wisatawan yang hendak mengunjungi kampung Naga. Dalam kesehariannya, aturan di Kampung Naga melarang penggunaan listrik namun modernitas tetaplah menyelusup dalam kehidupan sehari-hari warganya. Ponsel, televisi dan radio adalah beberapa barang elektronik yang sudah digunakan penduduk kampung ini. Antena televisi tampak di atas atap ijuk rumah-rumah di kampung ini. Penggunaan listrik memang dilarang di kampung ini namun listrik bersumber dari aki boleh digunakan.

Menyaksikan langsung kehidupan Kampung Naga di bulan Februari 2013, memberikan pemahaman bahwa adat istiadat dan peraturan peninggalan leluhur dapat tetap dijalankan ditengah modernitas zaman. Kelestarian kampung dan alam sekitarnya merupakan keharusan yang harus dijaga demi keberlangsungan kehidupan. Pengelolaan kampung sebagai daya tarik wisata memberikan manfaat dua arah bagi penduduk kampung maupun para pengunjung. Pengunjung dapat memahami makna dari kederhanaan dan kesahajaan kehidupan Kampung Naga. Bagi penduduk kampung sendiri dapat mengenalkan adat istiadat dan kehidupan kampung mereka sebagai bentuk interaksi yang positif dengan masyarakat luar.

Yogyakarta, 13 Mei 2013

DSC_1180 - Copy

Tangga menuju Kampung Naga

DSC_1189 - CopyWisatawan mancanegara berhenti sejenak di tangga menuju Kampung Naga

DSC_0667 - CopyKampung Naga nan elok

DSC_0842 - Copy

DSC_0906 - CopyRuang publik di depan masjid

DSC_0961 - Copy

Atap ijuk

DSC_1059 - CopyRuang di depan deretan rumah

DSC_0938 - Copy

DSC_0956 - Copy

Tiang rumah beralaskan batu

DSC_1126 - Copy

Ikan mas di kolam penduduk Kampung Naga

DSC_1071 - Copy

DSC_0817 - Copy

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: