RSS

Mengenal Batik dan Kampung Batik di Bantul

Mengenal Batik dan Kampung Batik di Bantul

Mencari tau tentang kampung batik Bantul Yogyakarta dimulai dengan mendatangi Batik Dirjo Sugito atau dikenal juga Batik Bu Dirjo yang sudah ternama sebagai penjual batik Bantul. Namun sayang, karena hari sudah sore toko batik ini sudah tutup. Kecewa rasanya namun apa mau dikata kesorean datang penyebabnya. Di saat bersamaan hendak berbalik arah kembali ke kota Yogya, terlihat beberapa papan nama penjual batik lainnya. Tepatnya di muka jalan kecil tidak jauh dari batik Bu Dirjo. Batik Tugiran dan Batik Bu Menik namanya. Di seberang jalan ini, ada juga beberapa papan nama batik lainnya. Rupanya saya berada di kampung batik Bantul.  Walau menyadari hari sudah sore, rasa penasaran begitu kuat mendorong untuk mendatangi batik yang ada di jalan kecil tersebut.

Menyusuri jalan di Bergan Wijirejo Pandak Bantu dengan berjalan kaki memberi suasana yang berbeda. Jalan tersebut di cor semen dan rapi. Rumah-rumah berhalaman luas di sisi kiri kanan jalan. Beberapa rumah memiliki kandang sapi tepat di pinggir jalan sehingga menguar aroma khas kandang sapi ketika lewat didepannya. Sapi-sapi yang dipelihara kelihatan bukan sapi lokal karena bertubuh lebih besar dari ukuran biasa sapi lokal  dengan bulu berwarna coklat kekuningan dan putih melingkar di seputar matanya. Semua rumah halamannya ditanami berbagai tanaman dan ada juga rumpun bambu besar yang tumbuh subur dengan ujung-ujung batangnya melengkung menjuntai di atas kepala. Teduh dan sejuk rasanya.

Papan nama menunjukkan untuk mencapai Batik Bu Menik 50 meter dan Batik Tugiran 100 meter. Tiba dipertigaan, kami memutuskan berbelok ke kiri menuju Batik Bu Menik yang lebih dekat. Namun sayang, batik tersebut telah tutup. Bangunan yang menjadi tempat penjualan batik merupakan rumah tempat tinggal yang sudah disesuaikan bagian depannya menjadi etalase batik. Di samping rumah ini, tampak berdiri kokoh bangunan bertingkat yang sedang dibangun dan hampir jadi. Arsitektur bangunan ini tampak modern namun kesan tradisional tetap dimunculkan melalui pintu masuk dan jendela yang dibuat dari kayu berukir cantik atau sering disebut gebyok.

Karena masih cukup terang kami melanjutkan menuju Batik Tugiran. Menyusuri jalan kecil kampung ini, dapat merasakan atmosfir kampung Jawa tradisional dengan bangunan yang masih tradisional. Batik Tugiran berada di ujung jalan. Halamannya luas dengan dua bangunan rumah bersebelahan. Papan nama batik Tugiran tampak jelas dipasang di muka kedua rumah tersebut. Seorang wanita muda keluar dari rumah tersebut menyambut kami dengan senyum ramah dan mempersilahkan kami masuk. Bagian ruang tamu rumah tersebut telah diatur menjadi tempat penjualan batik. Kain dan baju batik tampak dipajang rapi. Untuk melihat kain batik tulis, kami dipersilahkan ke rumah sebelah karena koleksi kain lebih banyak dipajang disana.

Rumah ini tampak lebih tua dengan arsitektur rumah khas tahun 80-an. Sama juga, ruang tamu disulap menjadi ruang pajangan batik. Dua deretan baju batik digantung di tengah ruangan. Rak kayu berjajar dengan lipatan kain batik ditumpuk di setiap sekatnya. Ada tumpukan batik tulis berbagai motif khas Bantul dalam aneka warna. Ada juga batik kombinasi tulis cap dan batik cap. Motif pring sedapur, gringsing, galaran, gereh adalah beberapa jenis motif batik yang dijual disini. Harganya bervariasi, untuk kain batik tulis 2 meter dijual 100 ribuan dan kain batik cap 2 meter dijual 60 ribuan.

Pada kesemapatan kedua berkunjung ke kampung batik ini, kami mampir ke Batik Bu Dirjo dan Batik Tugiran. Koleksi batik di Bu Dirjo jauh lebih banyak. Batik tulis dan batik cap beraneka motif dan warna dijual disini. Pakaiaan batik jadi juga banyak seperti kemeja, baju wanita dan anak-anak. Terdapat dua ruangan besar yang memajang batik. Sepertinya tidak hanya menjual batik khas Bantul, batik Lasem juga dijual di toko batik ini sebagai variasi walaupun jumlahnya tidak banyak. Batik tulis Bantul dengan pewarnaan dari bahan alami menarik hati. Ditumpuk rapi dalam satu lemari, batik-batik tulis ini sangat cantik. Warna sogan hitam putih mendominasi, namun ada juga warna-warna lainnya yang lebih lembut seperti coklat muda dan biru muda. Harganya berkisar 350 ribuan hingga 400 ribuan.

Kali kedua berkunjung ke Batik Tugiran, kami beruntung. Rupanya di bagian dalam dan belakang rumah sedang berlangsung proses pembuatan batik. Dengan ramah, Bu Tugiran pemilik usaha batik ini, mempersilahkan kami ke dalam untuk melihat langsung proses pembuatan batik. Di bagian dalam, dua orang pekerja sedang melakukan proses pelepasan malam dari kain batik. Di samping sumur, terdapat beberapa bak air sebagai tempat pencelupan batik dan satu tong besi tempat perebusan batik. Kedua pekerja tersebut mencelupkan kain batik ke bak air kemudian membentangnya di lantai. Selanjutnya kain tersebut disapu atau lebih tepatnya disikat dengan sapu lidi besar supaya malam yang masih melekat di kain lepas. Selesai disikat, kain kembali dicelup, demikian berulang kali hingga dirasa cukup dan kain akan dijemur dibagian belakang rumah.

Pak Tugiran, pemilik usaha ini, mengangkat kain-kain batik yang siap dijemur ke belakang rumah. Di sana beliau membentang rapi kain-kain tersebut di batang bambu yang disusun bersilangan di halaman luas belakang rumah. Tampak halaman tersebut penuh dengan jemuran kain batik. Kain-kain tersebut sebagian besar belum jadi artinya masih ada beberapa tahap proses lagi yang harus dikerjakan sebelum siap jual. Motif kain parang, kawung dan motif lainnya tampak dari kain-kain tersebut karena malam masih menempel membentuk motif tersebut. Ada juga beberapa kain yang dijemur tinggal menyelesaikan satu tahap lagi sebelum jadi.

Di teras belakang rumah, empat orang ibu-ibu asyik membatik dengan posisi saling membelakangi mengelilingi satu kompor kecil dan diatasnya ada wajan kecil berisi malam cair. Sesekali mereka membalik badan sebentar mencelupkan ujung canting ke dalam wajan dan melanjutkan kembali menekuni mengulas malam cair ke atas lembar kain membentuk motif. Tiba diujung kain, proses “cegul” dilakukan yaitu menorehkan malam cair diujung kain membentuk pola garis lurus menggunakan sejenis kuas dari lidi dengan ujungnya dari sejenis spon.

Menurut ibu-ibu ini, mereka tinggal disekitar rumah Pak Tugiran. Sudah sejak puluhan tahun mereka bekerja sebagai pembatik. Tidak banyak lagi warga sekitar yang bekerja sebagai pembatik. Hal ini disebabkan beberapa hal. Keahlian membatik tidak bisa dimiliki semua orang karena biasanya keahlian ini akan tercipta bila memang ada keinginan dari orang tersebut untuk mau belajar dan menekuni membatik. Menurut mereka, sebaiknya keinginan membatik dimulai sejak kecil. Disamping itu, ada anggapan upah yang dierima pembatik saat ini sangat minim dibanding upah di masa dulu. Ini karena nilai uang dari upah yang mereka terima di masa sekarang lebih kecil dibandingkan masa dulu sehingga muncul ungkapan upah membatik hanya bisa untuk membeli garam saja. Hal ini ikut mengurangi minat pembatik terutama minat kalangan muda. Sudah jarang ditemui anak-anak muda yang mau menekuni pekerjaan sebagai pembatik. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik-pabrik yang ada disekitar Bantul yang memberi upah bulanan jauh lebih besar. Alasan akan kecintaan kepada seni membatik dan mengisi waktu setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah, membuat keempat ibu-ibu ini masih tekun sebagai pembatik.

Menurut keterangan Pak Tugiran, usaha ini sudah lama mereka tekuni namun hanya untuk disetor ke pedagang batik di Pasar Bringharjo Yogyakarta. Setelah bangkit dari gempa besar mengguncang Yogyakarta dan sekitar termasuk bantul di tahun 2006, Pak Tugiran memulai kembali usahanya dengan juga menjual batik di rumah. Karena toko batik ini berada di rumah, pembeli dapat datang hingga malam hari selagi pemiliknya belum beristirahat.

Yogyakarta, 13 Februari 2013

DSC_0051

Papan nama penjual batik di kampung Batik Bantul

DSC_0053

Jalan kampung batik

DSC_1235

Batik Tugiran

DSC_0036

Pakaian batik

DSC_0026

Kain batik tulis

DSC_0027 - Copy

DSC_0047

Kain batik tulis sogan

DSC_0009

Tempat proses pencelupan batik

DSC_1247

Pekerja menyikat selembar kain batik untuk melepaskan malam yang menempel

DSC_1239

Beberapa meja untuk pembuatan batik cap

DSC_0012

Rak penyimpanan alat cap batik

DSC_0017

Aneka motif cap batik

DSC_0018

Cap batik

DSC_1262

Kain batik dalam proses penjemuran

DSC_1269

Penjemuran kain batik

DSC_1333 - Copy

Pembatik

DSC_1336 - Copy

Tekun menorehkan malam cair

DSC_1338

DSC_0004 - Copy

DSC_1349

Mengisi malam cair ke canting

DSC_1369

Selembar kain batik tersampir di ongkek gawangan terbalut malam yang telah mengeras

DSC_1300

Batik kawung yang masih diselimuti malam yang berwarna coklat

DSC_0032

Pak Tugiran memeriksa satu persatu hasil kerja yang disetor pembatik

DSC_0029

Selembar kain batik tulis bermotif pring sedapur yang selesai di tulis dengan malam, menunggu untuk proses pewarnaan

DSC_0062

Toko batik Dirjo Sugito atau Bu Dirjo

DSC_1229

Selembar batik tulis di toko Bu Dirjo

DSC_1292 - Copy

Menyaksikan langsung proses pembatikan di kampung Bergan Wijirejo Pandak Bantul

 

3 responses to “Mengenal Batik dan Kampung Batik di Bantul

  1. Sylvia

    19 Desember 2013 at 22:20

    Bu, ada no hp Pak Tugiran nya bu? alamat batik Tugiran dmn ya bu? Saya sedang mencari batik yg ada pengrajinnya, untuk saya pasarkan ke luar kota. Ibu ada referensi pengrajin batik yg lain? Jika ada, boleh berkenan untuk mengetahui alamat dan no hp nya?
    Mohon di balas ke email saya ya bu. Terima kasih

     
  2. hari

    16 Mei 2015 at 22:20

    ulasannya menarik, apakah ibu punya informasi tentang sejarah batik bantul dan referensi motif tentag batik bantul? itu akan sangat membantu saya kalau ibu bisa memberi saya informasinya,
    trimakasih,
    hari

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: