RSS

Labuhan Merapi: Perjuangan Mendaki Lereng Merapi

Sebagai pendatang berstatus mahasiswa di Kota Yogyakarta, berbagai kegiatan rutin tahunan kota ini banyak yang terlewati termasuk Upacara adat Labuhan Merapi. Baru pada tahun ini tepatnya 10 Juni 2013, aku berkesempatan menyaksikan upacara ini. Waktu yang memungkinkan karena telah menyelesaikan laporan seminar dan tinggal menunggu informasi jadwal seminar serta adanya teman yang juga berminat menyaksikan Labuhan Merapi, memuluskan  niat ambil bagian dalam kegiatan ini menjadi kenyataan. Kendaraan roda dua mengantarkan kami pukul 6.30 WIB menuju Desa Kinahrejo Cangkringan Sleman sebagai titik terakhir berkendaraan dan selanjutnya harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

DSC_0709 - CopyPagi hari di Desa Kinahrejo dengan latar Gunung Merapi – titik awal pendakian menuju Bangsal Sri Manganti

Satu setengah jam kami menapaki jalan setapak mendaki lereng Gunung Merapi dan tiba di Bangsal Sri Manganti tempat pelaksanaan kegiatan. Bukanlah hal mudah bagi kami menempuh perjalanan ini. Kemiringan lereng gunung yang cukup tajam pada titik-titik tertentu menguras tenaga. Entah berapa kali kami harus berhenti untuk mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Tidak hanya kami, beberapa rombongan kecil juga melakukan hal yang sama. Mengatur nafas dan tenaga agar dapat tiba ditujuan. Syukurlah sejuknya udara pagi pegunungan dan pemandangan indah nan hijau dan lembah kota Yogyakarta dari kejauhan menghapus kelelahan di setiap tahap perjalanan.

Tiba di lokasi pusat acara Labuhan Merapi, Bangsal Sri Manganti, aku ketinggalan tahap awal prosesi. Setiba disana sudah banyak abdi dalem, masyarakat setempat dan wisatawan lokal dan mancanegara yang berkumpul mengikuti khidmat prosesi. Pemimpin acara, Mas Lurah Suraksosihono atau biasa dipanggil Mas Asih – anak Mbah Maridjan yang dipercaya juga sebagai juru kunci Merapi, sedang menanam pohon kantil. Tahap selanjutnya mempersembahkan makanan dan bunga warna warni di depan sebuah batu besar tidak jauh dari pohon kantil tersebut.

DSC_0926Mas Asri – Juru Kunci Merapi

DSC_0937Mas Asri memimpin upacara Labuhan Merapi

Wisatawan dan wartawan antusias menyaksikan prosesi tersebut dari dekat, hanya abdi dalem dan masyarakat lokal saja yang tampak santai duduk di tanah tak beralas apapun. Setelah itu Mas Asih memberi kesempatan wartawan mewawancarainya terkait upacara adat ini. Upacara adat Labuhan Merapi merupakan perwujudan doa persembahan kepada Tuhan atas rahmat dan anugerah yang diberikan kepada kraton dan rakyatnya. Upacara ini juga sebagai tanda penghormatan bagi leluhur yang menjaga Gunung Merapi.

DSC_1038Upacara Labuhan Merapi berlangsung di Bangsal Sri Manganti

DSC_0895 - Copy

Sementara itu abdi dalem laki-laki dan perempuan dengan pakaian adat berwarna gelap terus melakukan tugasnya menyiapkan makanan dan membaginya dalam bungkusan plastik kecil. Di akhir upacara, bungkusan kecil makanan tersebut di bagikan kepada pengunjung dan terutama penduduk setempat berebutan mengambil bunga warna warni yang ada di tempat upacara. Mengharap berkah dari bunga dan makanan yang dibagikan. Pembagian makanan ini menandai berakhirnya upacara adat Labuhan Merapi.

DSC_0997 - Copy

DSC_1000 - CopyMembagi makanan ke dalam bungkusan plastik kecil

DSC_0006 - CopyRebutan bunga warna warni berharap berkah

DSC_0030 - CopyMemungut sisa bunga terakhir

Turun kembali ke Desa Kinahrejo Cangkringan Sleman merupakan perjuangan selanjutnya bagi kami. Menahan beban tubuh dengan bertumpuh pada lutut menuruni lereng Merapi terasa sangat sulit. Jalur berpasir dan jalan tanah yang gembur menyulitkan untuk melangkah dengan mudah. Merupakan perjuangan bagi kami yang tidak terbiasa dengan medan seperti itu. Jarak 3,5 km kami tempuh dari Bangsal Sri Manganti menuju bekas rumah Mbah Maridjan. Namun lagi-lagi, pemandangan indah terhampar di depan mata setimpal dengan lelah yang dirasa.

DSC_0172 - CopyPemandangan indah sepanjang menuruni lereng Merapi

Istirahat di warung makan sederhana di depan bekas rumah Mbah Maridjan sambil menikmati wedang jahe merupakan satu hal yang sungguh nikmat untuk saat itu. Udara yang sejuk perlahan melepas kelelahan kami setelah mendaki dan menuruni lereng Merapi. Sambil memandangi reruntuhan rumah Mbah Maridjan yang hancur dilanda gelombang awan panas Merapi dan masjid sederhana yang sudah dibangun kembali setelah rusak akibat letusan Merapi tahun 2010, menyadarkan betapa alam cepat memulihkan dirinya kembali. Tidak begitu tampak lagi sisa-sisa gelombang awan panas yang menyapu kawasan itu. Pohon-pohon tumbuh subur menghijau, penduduk beraktivitas mengambil rumput, sebagian penduduk aktif menjual dagangan kepada pengunjung dan rumah-rumah sederhana berdiri kembali. Hanya reruntuhan rumah Mbah Maridjan yang masih dibiarkan sebagai saksi betapa hebatnya dampak letusan Gunung Merapi. Hebatnya dampak letusan Merapi di kawasan ini, menjadikan kawasan ini sebagai zona bencana yang tidak boleh dijadikan tempat tinggal. Ketetapan ini dibuat pemerintah sebagai bentuk mitigasi bencana untuk mencegah korban di masa datang.

DSC_0260 - CopyPuing rumah Mbah Maridjan

DSC_0282 - CopyJuru kunci Gunung Merapi

Labuhan Merapi sebagai upacara adat tahunan membawa berkah bagi masyarakat setempat dan Yogyakarta. Upacara ini sebagai bentuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Alam dihormati keberadaannya dengan menjaga kelestariannya yang pada gilirannya alam dapat memberi dampak positif bagai manusia.  Pengunjung yang datang sedikit banyak membantu menggerakkan ekonomi setempat. Daya tarik wisata dari upacara ini terutama Gunung Merapi juga mengharumkan nama Yogyakarta sebagai kota wisata. Satu sisi lain, sebagai komponen dari garis imajiner Yogyakarta yang meliputi Laut Selatan, Keraton dan Gunung Merapi,  dari masa ke masa terbukti Merapi memang menjadi bagian penting bagi kehidupan Yogyakarta. Pembangunan di Yogyakarta tidak akan pernah lepas dari geliat Merapi.  Di kala aktif maupun di kala istirahatnya.

DSC_1039

Yogyakarta, 5 Agustus 2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: