RSS

Pulau Madura: Kabupaten Pamekasan

Pulau Madura: Kabupaten Pamekasan

Menginjakkan kaki di Pulau Madura rasanya seperti mengeluarkan potongan-potongan bayangan di kepala menjadi nyata. Pulau dengan tanah yang tidak begitu subur, pohon-pohon jati yang meranggas, terasa kering, panas dan pada bagian-bagian tertentu sepanjang perjalanan menuju Kota Pamekasan ada kesan seperti melihat acara Flora dan Fauna dengan seting lokasi sabana stepa di Afrika. Sapi-sapi madura dan kambing merumput di padang rumput atau ladang-ladang penduduk dengan rumput yang terlihat kering ala padang rumput di Afrika di kala kemarau sebagaimana sering ku lihat pada tayangan televisi. Kunjungan kedua kalinya di Pulau Madura ini menjadi nyata karena dorongan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai Pulau Madura terutama wilayah timur pulau termasuk Pamekasan.

Kunjungan ke Madura kali ini, mengikuti kegiatan Heritage Trail (JHS) Surabaya-Pamekasan. Berangkat pagi hari jam 7 dari Yogyakarta dengan Kereta Sancaka, tiba di Stasiun Gubeng Surabaya jam 12 siang. Makan siang dan mengunjungi House of Sampoerna Surabaya menyita waktu hingga pukul 6 sore. Perjalanan dilanjutkan menuju Pamekasan dengan menyeberangi Selat Madura melalui Jembatan Suramadu dan kurang lebih tiga jam perjalanan, tiba di Pamekasan.

Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai sentra batik di Jawa Timur dan dikukuhkan pada tahun 2009. Mulanya, kerajinan batik menjadi industri rumahan namun seiring berkembang pesatnya kerajinan batik tulis dan dipatenkannya sejumlah motif khas batik Pamekasan, maka Pemerintah Kabupaten Pamekasan menetapkan beberapa desa menjadi kampung batik yang diawali dengan penetapan Desa Klampar Kecamatan Proppo sebagai kampung batik (JHS). Pamekasan juga masuk dalam rekor MURI karena berhasil membuat kain batik tulis hingga mencapai 1.530 meter yang dilakukan pengrajin batik secara beramai-ramai dalam satu kali pembuatan. Kain tersebut dapat dilihat di Museum Umum Daerah yang dikelola Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan.

Saat ini Pamekasan memiliki Pasar Batik Tradisional Pamekasan yang juga dikenal penduduk setempat sebagai Pasar 17 Agustus karena di depan pasar tersebut terdapat gapura peringatan hari kemerdekaan RI 17 Agustus. Pasar ini dalam sepekan menjual barang kebutuhan sehari-sehari seperti sayur mayur dan sembako, pasar batik hanya ada di hari kamis dan minggu. Uniknya, selain pasar batik pada hari kamis dan minggu juga ada pasar hewan yang menjual kambing, domba, sapi, ayam, bebek, itik, burung dan sebagainya. Pasar hewan ini menempati ruang yang ada di depan pasar 17 Agustus dan sepanjang tepi jalan menuju ke pasar. Jadilah keramaian menjadi sesuatu yang menarik ketika mengunjungi pasar ini di hari kamis dan minggu. Kebetulan hari kamis ketika aku berkesempatan mengunjungi pasar ini. Aroma kambing dan unggas menyambut sepanjang langkah kaki ku masuk ke area pasar batik. Ramai percakapan bertransaksi dengan logat Madura dan hilir mudik ibu-ibu pedagang dan pembeli dengan barang dijinjing di atas kepala membuat suasana semakin semarak. Penjual hewan, sayuran, batu akik, batu kapur, batik dan sembako ramai menjajakan barang dagangannya.

Pasar batik sendiri menempati bangunan beratap yang sederhana dan bersih. Dengan bangunan tanpa sekat, para pedagang batik duduk berjajar menggelar batiknya dengan susunan yang rapi di lantai dan disampir di seutas tali yang diikat di tiang-tiang penyangga bangunan pasar. Warna-warni khas batik Madura khususnya Pamekasan menarik mata. Warna-warna berani menurut ku bila dibanding warna batik dari daerah lainnya di luar Madura. Merah, jingga, biru, hijau, kuning, pink, hitam, coklat semuanya ditampilkan dalam warna yang kuat. Tegas dan tidak malu-malu. Mayoritas pedagang batik di pasar ini menjual batik yang terbuat dari bahan katun, dari yang ku jumpai hanya ada dua orang yang menjual batik tulis berbahan sutera. Harga batik disini bervariasi, mulai dari Rp. 40.000,- untuk selembar kain batik cap katun berukuran 2 meter, kain batik tulis katun 2 meter Rp. 55.000,-, kain batik tulis katun halus Rp 130.000,- hingga kain batik tulis sutera Rp. 450.000,-. Di pasar ini dapat memilih batik sesuai selera dan kantong. Harga yang terbilang murah sekali bila dibandingkan dengan harga batik tulis Madura dengan kualitas sama yang ku jumpai di pameran batik di Yogyakarta. Pasar batik ini hanya ada di pagi hari jam 6 hingga 10 pagi karena itu harus datang pagi-pagi sekali sebelum pasar batik keburu bubar. Butuh waktu lebih dari dua jam agar dapat memilih batik dengan leluasa. Bila tidak sempat sarapan sewaktu datang ke pasar ini, ada beberapa warung makan di depan pasar yang menjual nasi ramoy, nasi rames ala Madura. Nasi ramoy terdiri dari nasi putih dengan lauk gule usus kambing, sambal, sarundeng dan sayuran serta diberi soun putih.

Berkeliling di pusat kota Pamekasan mendapat kesan kotanya tidak terlalu besar, dapat dikategorikan cukup tertata rapi dan bersih. Di pusat kota terdapat Masjid Agung Pamekasan, kantor pemerintahan, kantor swasta dan perbankan dan pertokoan. Jalan-jalan beraspal dan banyak pohon peneduh di sepanjang tepi kiri kanan jalan.

Pamekasan memiliki beberapa bangunan heritage antara lain Gedung Karesidenan Pamekasan dan Vihara Avalokitesvara. Gedung Karesidenan Pamekasan terletak di pusat kota Pamekasan berdekatan dengan Masjid Agung Pamekasan. Bangunan ini didirikan tahun 1945 dengan gaya bangunan kolonial namun dirancang oleh arsitek pribumi putra Madura. Bangunan ini masih asli dan berdiri kokoh dengan cat berwarna putih. Kolom-kolom dan jendela lebar dengan detail-detail bergaya kolonial membuat siapapun yang tidak tahu sejarah bangunan ini akan menebak arsiteknya pastilah orang Eropa. Plafon bangunan ini menggunakan anyaman bambu di cat warna putih dan menurut keterangan pegawai yang menempati bangunan ini, bahan plafon tersebut masih asli dan belum pernah diganti. Saat ini bangunan ini digunakan sebagai Kantor Badan Koordinasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menuju ke daerah pinggiran di bagian timur Pamekasan sekitar 17 km dari pusat kota terdapat Vihara Avalokitesvara. Setelah melewati jalan dengan petak-petak ladang garam yang memutih di kiri kanan jalan, tiba di vihara ini yang terletak di Dusun Candi Desa Polagan Kecamatan Galis. Vihara ini dibangun pada abad 18 dan menempati lahan seluas 3 hektar. Vihara tampak megah berwarna merah dan kuning emas dengan beberapa menaranya yang tinggi. Terdapat bangunan Musholla 4 x 4 meter bagi Umat Muslim di kawasan vihara ini dan Pura untuk umat Hindu yang berukuran  lebih kecil 3 x 3 meter. Unik dan menarik, tiga bangunan tempat beribadah agama yang berbeda berada di satu lokasi yang berdekatan. Karena itulah, MURI mencatat vihara ini sebagai vihara terunik karena di dalam vihara terdapat bangunan Pura untuk umat Hindu dan Musholla untuk umat Islam. Kondisi ini menggambarkan kerukunan umat beragama terjalin di dalam masyarakat Pamekasan.

Untuk makan malam di Pamekasan, Jalan Niaga menjadi pilihan karena jalan ini menjadi pusat kuliner Pamekasan di kala senja hingga malam hari dan juga dikarenakan hotel tempat kami menginap berlokasi di jalan ini. Ada beberapa kuliner khas Pamekasan Madura yang ku jumpai, antara lain sate lalat, soto toronan dan kaldu kokot. Sate lalat atau sate laler bukanlah terbuat dari lalat namun seperti sate pada umumnya dibuat dari daging ayam dan kambing. Potongan dagingnya yang kecil-kecil seperti ukuran lalat membuat sate ini disebut sate lalat. Satu porsi sate lalat disajikan 25 tusuk dengan siraman bumbu kacang dan kecap manis.

Kuliner lainnya, soto toronan yang merupakan soto khas Pamekasan. Rasanya seperti sup ayam namun dalam sepiring soto ini sarat akan tambahan lainnya. Ada irisan telur rebus, kentang rebus, soun, kremes, lontong daun, taburan bawang merah dan disiram dengan kuah kaldu sapi. Lezat bila ditambah sedikit perasan jeruk nipis. Kaldu kokot sama seperti sop kikil hanya yang berbeda pada sajiannya yang ditambahkan kacang hijau dalam kuah kaldu kokot. Unik memang dengan adanya kacang hijau tersebut namun keberadaannya tidak mengganggu rasa kaldu sapi yang lezat dan gurih. Kaldu kokot disantap dengan irisan lontong daun.

Perjalanan pulang siang hari dari Pamekasan menuju Surabaya menjumpai banyak pemandangan menarik. Jalan panjang yang  ditempuh mengikuti garis pantai. Perahu nelayan, kampung-kampung nelayan dan aktifitas sepanjang pantai sangat sayang untuk dilewatkan. Hal menarik yang kesekian ku dapat dalam perjalanan ini, muncul semburat jingga matahari terbenam dibalik awan dan berhasil kuabadikan ketika melintas di atas Jembatan Suramadu. Semoga suatu hari ku kan kembali menuju bagian timur Madura lainnya. Sumenep.

Yogyakarta, 24 Oktober 2012

Gedung Karesidenan Pamekasan

Taman di Bagian Dalam Gedung Karesidenan Pamekasan

Aula di Gedung Karesidenan Pamekasan

Masjid Agung Pamekasan dilihat dari Gedung Karesidenan Pamekasan

Museum Umum Daerah Kabupaten Pamekasan

Patung Penari Tradisional Pamekasan

Replika Karapan Sapi di Museum Umum Daerah Pamekasan

Gulungan Batik Terpanjang Pamekasan

Hasil kerajinan dan mainan anak-anak dari bahan daun lontar

Pasar 17 Agustus sebagai Sentra Batik Pamekasan

Pasar Hewan Hari Kamis di Depan Pasar 17 Agustus Pamekasan

Penjual Kapur

Pasar Batik Tradisional Pamekasan di dalam Kawasan Pasar 17 Agustus

DSC_0207

Para pedagang batik bercengkrama sambil menunggu pembeli

Penjual Batik Tulis Sutera

DSC_0153

Ladang Garam

Gudang Garam

Vihara Avalokitesvara

Musholla di Kompleks Vihara Avalokitesvara

Pura di Kompleks Vihara Avalokitesvara

Jl. Niaga Pusat Kuliner Malam di Pamekasan

Pusat kuliner Jalan Niaga di pagi hari

Penjual Sate Lalat di Jalan Niaga

Sate Lalat

Soto Toronan Pamekasan

Nasi Ramoy

Kaldu Kokot

Pemandangan indah dalam perjalanan Pamekasan – Suramadu

Senja di Jembatan Suramadu

Suatu hari ku kan kembali

 

14 responses to “Pulau Madura: Kabupaten Pamekasan

  1. bocah petualang

    20 Februari 2013 at 22:20

    Wah ternyata sudah dari Pamekasan, kebetulan saya tinggal di Bangkalan untuk saat ini. Sumenep juga ga kalah menarik untuk dikunjungi loh. Dan kalau bisa suatu saat harus lihat Karapan Sapi Piala Presiden🙂

     
    • Korlena

      20 Februari 2013 at 22:20

      Iya semoga bisa melihat karapan sapi secara langsung. Acara ini biasanya pada bulan apa ya?

       
      • Ifan Pratama

        21 Januari 2015 at 22:20

        Kalau kerapan sapi piala presiden biasanya di bulan oktober mbak, tapi di setiap hari jadi tiap kabupaten di madura itu juga ada festival kerapan sapinya. Kebetulan saya asli orang Pamekasan.

         
      • Korlena

        21 Januari 2015 at 22:20

        Terima kasih informasinya mas

         
  2. Dean

    28 Februari 2013 at 22:20

    Tapi ada satu yang ketinggalan ,,yang belum di kunjungi di kabupaten pamekasan,,,yaitu api tak kunjung padam..bagus banget

     
    • Korlena

      26 Maret 2013 at 22:20

      Iya sayang banget… sebelumnya api ini sdh dalam jadwal kunjungan sewaktu kesana namun sayang waktunya tidak memungkinkan krn harus segera kembali ke Surabaya. Semoga suatu hari bisa kesana.

       
  3. mona

    15 April 2013 at 22:20

    mbak, masih inget brp jam perjalanan dari surabaya – pamekasan? dan hotel apa tempat mbak nginap di pamekasan. tq

     
  4. Korlena

    16 April 2013 at 22:20

    Dari suramadu ke Pamekasan sekitar 3 jam perjalanan. Utk menginap ada hotel sederhana yaitu Hotel Ramayana di ujung jalan Niaga. Jalan ini pusat kuliner di malam hari.

     
  5. mona

    16 April 2013 at 22:20

    mbak, kalo pasar batik pamekasan itu pasar nya selalu ada setiap waktu? atau jenis pasar kaget yg hanya ada di waktu tertentu?. kebetulan saya besok pagi rencana jalan ke pamekasan dari surabaya untuk hunting batik tradisional yang harga nya lumayan terjangkau, ada tips nggak mbak? makasih banyak lho mbak info nya.

     
    • Korlena

      16 April 2013 at 22:20

      kalo pasar batik di pasar 17 agustus ini hanya ada hari kamis dan minggu mba, itupun di pagi hari. upayakan sepagi mungkin datang kesana karena menurut info gak sampai tengah hari para penjual batik sudah bubar. Harga batik disini murah sekali, tawar saja karena kebanyakan penjualnya juga sebagai pembuat batiknya. kalo batik berbahan sutera, tidak banyak yang menjualnya, rasanya hanya ada dua orang. mereka duduk di dekat pintu masuk pasar batik. selamat berburu batik mba🙂

       
  6. Rizal

    24 April 2013 at 22:20

    Adakah keterangan siapa arsitek gedung Karesidenan Madura di Pamekasan? dan tahun berapa tepatnya di bangun..

     
  7. Sinollah

    26 Juni 2013 at 22:20

    Selain api tak kunjung padam, mungkin perlu juga melihat sisi lain dari pulau Madura, khususnya Pamekasan, yaitu kehidupan dan geliat pondok pesantrennya. Selain itu kalau mau melihat langsung produsen batiknya (sentra batik) salah satunya ada di Kecamatan Proppo. terdapat juga salah satu pesantren di Kecamatan Palengaan (PP Kebun Baru) yang selain memberkan pendidikan juga mengajarkan santrinya membatik, bahkan sekarang menjadi salah satu produsen batik di Pamekasan. Di Kecamatan Proppo juga ada sebuah candi, yaitu Candi Burung.
    Kalau berkunjung ke Madura pada umumnya, apalagi punya teman disana, siapkan fisik kita karena setiap berkunjung ke salah satu rumah pasti akan dijamu dengan makan

     
  8. Din Halili Odieck's

    18 Januari 2014 at 22:20

    apakah korlena keturunan madura?? bagus khn viharanya?? itu desa saya mbg

     
    • Korlena

      21 Januari 2014 at 22:20

      bukan mba saya dari Sumatera….. wah desanya menarik.. salam kenal ya

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: