RSS

Sri Gethuk, Atraktif di Kala Kemarau

Air terjun. Bukanlah sesuatu yang istimewa. Air yang jatuh dari ketinggian, orang-orang bersuka ria mandi di bawah jatuhan airnya. Namun kesan berbeda ku dapat ketika mengunjungi air terjun Sri Gethuk di Gunungkidul Yogyakarta. Ketinggian air terjun ini masih kalah jauh dibanding air terjun lain yang pernah ku kunjungi, air terjun Coban Rondo di Malang ataupun air terjun di Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah. Air terjun Sri Gethuk tidak tinggi namun strukturnya bertingkat. Tingkat pertama air jatuh ke berupa kolam alami kemudian jatuh lagi ke bawah membentuk beberapa air terjun kecil dan terakhir jatuh ke Kali Oyo.

Kondisi Gunungkidul yang tandus, berkapur (karst), tanah lempung dan kedalaman lapisan tanah subur yang minim menyebabkan hanya beberapa jenis tanaman saja yang bisa hidup dengan baik. Jati salah satunya. Di kala kemarau pemandangan khas Gunungkidul adalah suasana kering tandus dengan pohon-pohon jati yang hidup diantara tumpukan batu-batu yang disusun rapi membentuk terasering. Pemandangan inilah yang ku jumpai di perjalanan menuju dan disekitar kawasan air terjun Sri Gethuk dan menimbulkan kesan tersendiri.

Tiba di kawasan Sri Gethuk kesan tersebut semakin menguat. Cutting field atau pemotongan terhadap lereng bukit-bukit untuk memperluas lahan parkir menjadi kebutuhan seiring meningkatnya jumlah pengunjung ke air terjun ini. Jumlah kendaraan roda empat dan roda dua yang cukup besar terutama kala weekend ditampung di beberapa tingkatan lahan parkir mengikuti kontur tanah yang berbukit. Bukit yang dipotong menampakkan lapisan tanah lempung yang berwarna beige dan jadilah tanah ini menutupi permukaan lahan parkir. Syukurnya kami datang kesini ketika kemarau, lahan parkir kering, tidak basah dan liat.

Dari area parkir, untuk mencapai air terjun dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik perahu. Kami memilih naik perahu karena ingin mencoba menyusuri sungai Oyo sebelum tiba di air terjun. Kurang lebih 300 meter dari area parkir, turun ke tepi sungai dan disini sudah menunggu perahu buatan penduduk setempat. Perahu ini bentuknya lebih mirip rakit daripada perahu. Bila rakit biasanya dibuat dari jalinan bambu dan digerakkan dengan tenaga manusia, rakit ini dibuat dari beberapa keping papan yang disusun rapi diatas beberapa drum plastik biru dan digerakkan dengan mesin. Pengemudi hanya duduk dan mengarahkan kemudi. Cukup Rp. 10.000,-, setiap orang diantar menuju air terjun dan dijemput kembali ke pangkalan perahu tempat pertama naik. Setiap perahu dapat dinaiki 15 orang.

Kali Oyo sendiri tampak menarik. Airnya berwarnah hijau dan bersih. Dari pangkalan perahu, diajak menyusuri kali ke arah utara menuju air terjun. Di kiri dan kanan berdiri tegak dinding-dinding bukit bebatuan karst. Bebatuan dinding bukit ini membentuk struktur yang menarik akibat gerusan air kali dalam jangka waktu yang panjang. Menyusuri kali ini pada jam 2.30 siang memberi hikmah tersendiri, sinar matahari ada dibalik tebing sebelah barat sehingga sinar matahari terhalangi dan suasana teduh sepanjang menyusuri kali ini.

Menurut keterangan salah seorang pemuda setempat yang mengelola air terjun ini, tebing di sebelah kanan (timur) masuk wilayah Gunungkidul dan tebing di sebelah kiri (barat) masuk wilayah Bantul. Pengelolaan air terjun ini sendiri belum ditangani pemerintah Kabupaten Gunungkidul, penduduk Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul membentuk kelompok pengelola kawasan wisata ini. Pendapatan dari tiket masuk air terjun, parkir dan tiket perahu dikelola untuk biaya operasional dan sebagai pendapatan pengelola dan desa.

Tidak sampai 10 menit menyusuri kali Oyo, tiba di air terjun Sri Gethuk. Bertepatan dengan hari libur Idul Adha 2012, pengunjung memadati air terjun ini. Mandi bermain air terjun, duduk di bebatuan, lompat ke kali Oyo dari tebing sebelah barat ataupun mengapung di kali. Ada juga yang sibuk mengambil foto. Kondisi air terjun yang berada di tepi kali dengan struktur bebatuan mengharuskan pengunjung terutama anak-anak harus berhati-hati melangkah. Salah sedikit, bisa terpeleset dan jatuh membentur bebatuan. Karena kemarau, air terjun tampak bersih dan jernih, jatuh membentuk tingkatan air terjun. Airnya yang sejuk mengundang ku dan setiap pengunjung untuk mandi bermain air. Aku sendiri tidak mempunyai persiapan untuk mandi, jadilah hanya bermain air seadanya dan duduk di bebatuan melihat aktifitas teman-teman dan pengunjung lainnya sambil mengambil beberapa foto.

Tampak semua pengunjung riang gembira. Bapak ibu sibuk mengawasi putra putinya bermain air, sekelompok mahasiswa berenang dan mengapung di kali menggunakan jaket pelampung dan ban besar, sebagian lainnya antri berdiri di tebing barat untuk melompat ke kali. Seorang pemuda yang berulang kali mengurungkan niatnya melompat, mengundang sorakan dari pengunjung. Dan pemuda tersebut terpaksa melompat karena ulah seorang temannya yang tiba-tiba mendorong paksa. Beberapa orang berdiri di tebing, menunggu datangnya perahu jemputan untuk pulang.

Semakin condong matahari ke Barat, mengingatkan untuk bersiap pulang. Pengunjung padat antri menunggu perahu jemputan. Kalau sebelumnya perahu datang satu-satu, kali ini tiga perahu bersamaan datang menjemput. Kembali menyusuri kali Oyo dalam arah berlawanan dari kedatangan, tiga perahu beriringan berlayar dengan mesin mengeluarkan suara klotok klotok klotok…. Bendera merah putih berkibar di depan salah satu perahu, menguatkan kesadaran akan betapa cantiknya alam nusantara. Siapa kira diantara bebatuan karst Gunungkidul yang terkenal tandus ada kawasan air terjun yang cantik. Rahmat Allah SWT yang disikapi masyarakat sekitarnya yang dengan jeli mengelola potensi ini sejak tahun 2009. Tiba di pangkalan, pengunjung bergantian turun dari perahu dan sedikit diatasnya disediakan bangunan sederhana dengan beberapa bangku panjang kayu sebagai tempat tunggu. Di bagian barat, disediakan tempat sholat di atas batu besar dibuat dari pemotongan tebing batu. Terhampar tiga sajadah dan ada dua pancuran air untuk berwudhu. Sholat di alam terbuka diatas batu kapur di tepi sungai, suara gemericik air pancuran, semilir hembusan angin dan suara kicauan burung, pengalaman pertama yang sangat berkesan. Getuk goreng menjadi oleh-oleh dari Sri Ghetuk.

Sejuknya air terjun dan teduhnya suasana dengan air kali yang hijau dan bersih diapit dua tebing batu berstruktur menarik, kawasan Sri Gethuk menimbulkan kesan berbeda. Menarik untuk dikunjungi di lain waktu. Kesan ini ku dapat di kala musim kemarau. Menurut keterangan pemuda pengelola dan orang yang pernah berkunjung di musim hujan, air kali akan lebih tinggi dari musim kemarau dan air terjun juga tidak sebersih dan sejernih di musim kemarau. Beruntung untuk pertama kali aku mengunjungi air terjun ini di musim kemarau. Sri gethuk lebih atraktif di kala kemarau.

Yogyakarta, 8 November 2012

Area Parkir

Kali Oyo

Menuju dan Pulang dari Sri Gethuk

Pengemudi Perahu

Air Terjun Sri Gethuk

Diseberang, pemuda antri melompat ke kali

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: